KIAT MENJADI PENGUSAHA SUKSES

Suatu hari seseorang pernah bertanya pada Abdurrahman bin Auf -radhiallahu anhu-, “Apa kiat anda hingga bisa sekaya ini..?

Abdurrahman bin Auf menjawab, “Dulu.. Aku selalu ridho dengan keuntungan yang sedikit”.
Dalam menjalankan usaha, yang paling penting adalah keberkahan rezeki, bukan besarnya keuntungan.

Banyak orang yang keuntungannya sedikit, namun Allah memasukkan kekayaan lain di dalam hatinya. Sebaliknya, banyak orang yang keuntungannya banyak, namun Allah mencabut keberkahan dari hartanya, sehingga betapapun banyaknya harta yang dimilikinya, dia tidak akan pernah merasa puas dan cukup dari anugrah tersebut.

Bila anda seorang pengusaha, pilih harga yang masuk akal untuk barang dagangan anda. jangan memanfaatkan hajat orang lain demi mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Ingat, siapa yang memudahkan orang lain dalam urusan dunia, maka Allah akan memudahkan urusannya didunia dan akhirat.

Dan siapa yang menyulitkan orang lain, maka hidupnya akan dipersulit, karena balasan sesuai dengan perbuatan. Bahkan dikwatirkan apabila dia selalu menyulitkan orang lain, maka do’a-do’a yang tak tertolak dari mereka yang merasa terdzolimi itu akan menimpanya. Karena Allah tidak pernah lalai dari perbuatan hamba-hamba–Nya.

(Faidah dari Syaikh DR. Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As Syinqity -hafidzahullah-).

Oleh Ustadz Aan Chandra Thalib

Bisnis Adalah Tentang Menepati Janji

handshake_puzzle2Saya menyimpulkan ini dari pengalaman dan perenungan cukup dalam. Bisnis sebenarnya adalah soal menepati janji. Janji kepada pelanggan, kepada karyawan, kepada investor, kepada mitra/vendor, kepada masyarakat, kepada keluarga dan diri sendiri.

Kemarin saya mendapat “teguran” dari seorang pelanggan. Ia merasa sebagian haknya belum dipenuhi oleh manajemen Manet. Saya diingatkan lagi dengan janji-janji yang telah kami buat itu.

Ketika bertransaksi dengan pelanggan, kita telah berjanji untuk memberikan mereka produk yang dibeli berikut atribut janji lainnya seperti kualitas, waktu pengiriman, retur, garansi dan sebagainya.

Bisnis akan jatuh tersungkur bila tidak mampu lagi menepati janji-janjinya. Bernie Madoff tersungkur dan terbongkar kedoknya ketika ia tidak lagi mampu men-deliver janjinya kepada investor.

Ketika masih di Tanah Abang dulu, saya menyaksikan sendiri fenomena pengusaha-pengusaha yang jatuh karena tidak menepati janji dengan mitra suppliernya.

Umumnya mereka melakukan transaksi dengan supplier secara kredit. Masalahnya, uang yang seharusnya dibayarkan kepada supplier, diputar dulu ke tempat lain yang tidak semestinya, seperti: membuka bisnis baru, beli rumah, beli mobil dan sebagainya.

Mungkin mereka berpikir bahwa “nasib” supplier ada di tangan mereka. Bargaining position mereka sangat lemah sehingga mau saja dibegitukan.
Mungkin mereka berpikir bahwa janji yang harus ditepati hanyalah kepada pelanggan saja. Itu salah besar. Yang berhak ditepati janjinya adalah semua pihak yang terlibat dalam proses bisnis kita, sekecil apa pun perannya.

Menepati janji ini menjadi begitu berat dan pahit ketika dalam kondisi sulit. Saya ingat sekali tahun 2003 lalu. Tahun yang paling berat dalam perjalanan bisnis Manet.
Di bulan puasa, sehari menjelang keberangkatan saya dan istri untuk merayakan Idul Fitri di tempat mertua di Palembang, saya menongkrongi ATM BCA di Blok F Tanah Abang dengan harap-harap cemas.

Saya sedang menunggu transferan pembayaran dari pelanggan. Ya, saat itu sebagian besar transaksi dengan pelanggan adalah secara piutang.
“Pak, tolong ditransfer berapa pun adanya”, demikian pinta saya dengan memelas kepada siapa pun pelanggan yang berutang. Saya harus melunasi utang kepada para supplier di Pekalongan. Kalau uang itu tidak ditransfer, para karyawan mereka tidak dapat berhari raya bersama keluarganya. Pembayaran dari saya adalah “penyambung nyawa” buat mereka.

Masalahnya, kondisi keuangan bisnis kami pun sedang parah sekali. Sama sekali tidak ada uang di rekening kami. Betul. Hanya ada tersisa ongkos untuk naik bis Lorena.
Meski begitu kami tetap menunaikan janji. Gaji karyawan telah dibayarkan berikut THRnya. Utang kepada supplier pun telah dilunasi. Lantas, buat kami sendiri sebagai pemilik bisnis apa yang tersisa? Nothing.

Uangnya memang ada, tapi di tangan pelanggan yang entah kapan akan dibayar. Itu sebuah kesalahan manajemen, saya akui.
Tapi, di balik semua itu, janji telah ditunaikan. Saya berprinsip, menjaga nama baik dan menepati janji itu lebih penting ketimbang keuntungan di tangan dengan mengebiri hak orang lain. Ketika bisnis rugi, pemiliklah yang menanggung risikonya. Jangan dilimpahkan kepada pelanggan, karyawan atau mitra kita.

Bagaimana pendapat anda?

Salam FUUUNtastic!
Wassalam,

Roni Yuzirman, Owner Manet Busana Muslim, Founder Komunitas TDA

Tips Memilih Kasur Busa

 

Membeli sebuah kasur busa yang berkualitas tentu akan sangat kita butuhkan demi kenyamanan tidur keluarga. Dengan kualitas kasur yang baik, maka kualitas tidurpun akan meningkat, sehingga kesehatan dan keharmonisan keluarga pun akan lebih mudah tercapai.

Berikut kami memberikan tips-tips dalam memilih kasur busa, namun ada beberapa hal yang perlu anda ketahui Lanjutkan membaca Tips Memilih Kasur Busa